What! band gak jelas, yang kek gitu yang dibilang musik indonesia, tiap pagi nongol di tipi lagi. Sebelah dua belas sama acara gosip jadinya. Sama-sama ngerusak tatanan resonansi kehidupan *wedannn bahasa*. Gitu katanya. Tapi besok lusanya, seharian kerja sambil download full album band yang 'berencana mencelakai kehidupannya'.In other case,
Temen lama gw-cewe, kita bertukar cerita. Dia lagi ga bisa tidur gara2 terus mikirin atasan dikantornya. Mikir yang seperti apa? gw tanya. Ada perasaan kangen yang selalu muncul di pikirannya. Kek yang lagi jatuh cinta. Tapi mustahil. Atasannya sama sekali gak pernah bersikap baik kepadanya. Yang benar dianggap angin lalu, yang salah selalu diungkit. Kesal dan muak. Hari-hari kerjanya hanya bisa dinikmati ketika atasannya meeting di luar kantor, atau sejam menjelang jam masuk, itu karena dia selalu terlambat datang. Dan sekarang, temen gw ini merasa dirinya ga waras lagi, karena dia mulai merasa empati, dan merasa bahwa selama ini atasannya memang berlaku benar.
What happens?
Hahaha, gw gak ambil kelas psikologi, jadi jangan tanya gw perilaku psikis yang terjadi.
Gw cuman inget, dulu di Stockholm, Swedia, terjadi perampokan bank di Kreditbanken. Perampok menyandera karyawan selama 4 hari (23-28 agustus 1973). Perlakuan 2 perampok bernama Olsson dan Oloffson selama 4 hari bersama sandera membuat salah satu sandera, Kristin Emark, merasa simpati dan menjadi takut polisi akan mencederai mereka berdua.
Mereka tertangkap dengan bom gas yang dilemparkan ke dalam bank, tidak ada sandera yang terluka. Olsson, otak perampokan dikenai hukuman 10 tahun. Oloffson, temannya, mendapat hukuman lebih ringan karena didepan pengadilan dia mengaku, walaupun sama2 bersikap kasar, saat penyaderaan dia lebih melindungi para sandera ketimbang mngikuti Olsson yang selalu mengancam sandera. Hal inilah yang membuat Kristin selama penyanderaan mengubah dari benci menjadi jatuh hati, dan menemui Olsson beberapa kali setelah itu. Setelahnya, bisa ditebak, mereka menikah dan memiliki beberapa anak.
Nils Bejerot, kriminolog yang mengamati adegan drama perampokan yang pertama kalinya ditampilkan live di televisi swedia, mencetuskan fenomena ini sebagai Stockholm Syndrome. Kondisi dimana seseorang menjadi empati/jatuh hati pada hal yang diketahui akan/telah membuatnya celaka/depresi.
Seandainya gw kriminolog juga, adegan Mas Boim Sang Teroris saat drama penangkapan, akan gw quote sebagai Temanggung Syndrom. Yaitu sindrom yang dialami seseorang ketika tegang (ini casenya : digrebek polisi) dia akan menuju ke wc terdekat untuk pup. Akan lebih meyakinkjan lagi sindromnya ketika orang itu sedang pup, lalu ditanya namanya, dia akan menjawab.. " Saya Nurdin M Pup..!"
Banyak hal yang awalnya kita berusaha benci dan mengelak, tapi akhirnya menjadi candu. Mungkin ini juga yang menyebabkan peringatan keras merokok malah jadi membuat semakin banyak perokok. Maka hati-hatilah menakar benci pada sesuatu. Karena itu akan menjadi sesuatu yang berkebalikan.
Hmmm, kalo gitu mulai sekarang gw bakal benci banget ama duit, apartemen mewah, camry, dan Asmirandah... *ngakak puas*
O ya, tentang Kristin dan Olofsson yang telah menikah, itu hanyalah mitos yang banyak beredar saja. Sebenarnya, tidak sama sekali *emang sinetron indonesah*. Actually, kelak mereka hanya bersahabat saja.

